Penanaman Rhizophora mucronata di Kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dianugerahi dengan kekayaan maritim yang tak terhingga. Lautan bukan hanya sumber kehidupan dan mata pencaharian bagi jutaan rakyat Indonesia, tetapi juga garda terdepan dalam menghadapi tantangan global terbesar abad ini yaitu perubahan iklim. Emisi gas rumah kaca yang terus meningkat menuntut solusi mitigasi yang efektif dan inovatif. Di sinilah ekosistem karbon biru mangrove menunjukkan potensi yang luar biasa. Karbon biru mangrove menyerap karbon jauh lebih efisien dan penyimpanan karbon yang lebih lestari dibandingkan hutan daratan per unit area. Di Indonesia, di mana jutaan hektar ekosistem vital ini tersebar, pelestarian dan restorasi karbon biru bukan hanya berarti pengurangan emisi, tetapi juga perlindungan pantai dari abrasi, peningkatan stok ikan dan ketahanan pangan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. Sebuah solusi ganda yang strategis.
Keberhasilan inisiatif rehabilitasi mangrove di Indonesia tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga peran aktif dan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan non-pemerintah. Sektor industri, komunitas akademisi, dan masyarakat lokal memiliki peran krusial dalam mendukung dan mempercepat transisi menuju pengelolaan kawasan mangrove yang berkelanjutan. Sektor industri yang memiliki jejak ekologis besar atau beroperasi di wilayah pesisir, memiliki tanggung jawab dan peluang untuk berkontribusi pada kelestarian kawasan mangrove. Perusahaan harus berupaya mengurangi emisi GRK mereka sendiri dari operasional inti, sejalan dengan prinsip mitigation hierarchy (avoid, reduce, then offset) (Gold Standard, 2024).